Monday, 1 September 2014

Harapan yang Terlupakan

By Unknown | At 06:48 | Label : | 0 Comments
Budaya Mengantri ( dok : kaskus.co.id )
Sebelum bertanya kok judulnya seperti itu? Mari kita kembali ke masa lalu untuk sejenak dan pikirkan bersama bagaimana ini bisa terjadi sekarang. Waktu kita kecil, kita sering di beritahu oleh kedua orang tua, guru, kakek dan nenek kita tentang hal-hal yang baik, baik itu membuang sampah pada tempatnya, budaya mengantri, dsb. Mengenai budaya membuang sampah sudah kita bahas beberapa hari yang lalu pada artikel yang berjudul Ketika Semua Melihatku. Untuk kali ini saya akan sedikit mengulas tentang mengantri. Kenapa sih kok yang di pilih mengantri ? Oh jangan salah, dari mengantri pun kita belajar banyak hal, efeknya pun juga banyak. Beberapa hari yang lalu warga Yogyakarta di kejutkan oleh seorang mahasiswa S2 yaitu Florence Sihombing. Ketika SPBU di daerah yogyakarta sedang penuh dan antrean kendaraan bermontor yang sangat panjang membuat Florence mengisi Bahan Bakar Minyak ( BBM ) di tempat antrean mobil. Ketika ia hendak membeli BBM, petugas mengalihkan florence di antrean sepeda montor, seketika itulah Florence tidak mau dan akhirnya menghujat di dunia maya tentang apa yang ia alami.
Lantas dimana BUDAYA MENGANTRI yang di ajarkan oleh Guru, Orang Tua, Kakek, dan Nenek kita ? ? 

Setelah kasus Florence saya mendapatkan pelajaran berharga dari seorang kawan yang juga mahasiswa dari semarang. Dikutip dari status facebook. Status yang di tulis oleh Mien R.Uno Foundation ini berjudul Etika Antri Vs Pandai " Matematika ". Sebelumnya saya sangat berterima kasih kepada Mien R.Uno yang menulis ini, dan saya ingin sekali orang di luar sana membaca coretan coretan tangan pada keyboard mas Mien R.Uno yang menghasilkan karya luar biasa. Saya sejujurnya agak sedikit tertegun ketika membaca dan membayangkan apa yang sebenarnya terjadi di dunia ini. Langsung saja yah :).

Seorang guru di Australia pernah berkata: “Kami tidak terlalu khawatir jika anak2 sekolah dasar kami tidak pandai Matematika” kami jauh lebih khawatir jika mereka tidak pandai mengantri.” “Sewaktu ditanya mengapa dan kok bisa begitu ?” Kerena yang terjadi di negara kita justru sebaliknya. Inilah jawabannya: Karena kita hanya perlu melatih anak selama 3 bulan saja secara intensif untuk bisa Matematika, sementara kita perlu melatih anak hingga 12 Tahun atau lebih untuk bisa mengantri dan selalu ingat pelajaran berharga di balik proses mengantri. Karena tidak semua anak kelak akan berprofesi menggunakan ilmu matematika kecuali TAMBAH, KALI, KURANG DAN BAGI. Sebagian anak mereka menjadi Penari, Atlet Olimpiade, Penyanyi, Musisi, Pelukis dsb. Karena biasanya hanya sebagian kecil saja dari murid-murid dalam satu kelas yang kelak akan memilih profesi di bidang yang berhubungan dengan Matematika. Sementara SEMUA MURID DALAM SATU KELAS ini pasti akan membutuhkan Etika Moral dan Pelajaran Berharga dari mengantri di sepanjang hidup mereka kelak. ”Memang ada pelajaran berharga apa dibalik MENGANTRI ?” ”Oh iya banyak sekali pelajaran berharganya;” 
1. Anak belajar manajemen waktu jika ingin mengantri paling depan datang lebih awal dan persiapan lebih awal. 
2. Anak belajar bersabar menunggu gilirannya tiba terutama jika ia di antrian paling belakang. 
3. Anak belajar menghormati hak orang lain, yang datang lebih awal dapat giliran lebih awal dan tidak saling serobot merasa diri penting. 
4. Anak belajar berdisiplin dan tidak menyerobot hak orang lain. 
5. Anak belajar kreatif untuk memikirkan kegiatan apa yang bisa dilakukan untuk mengatasi kebosanan saat mengantri. (di Jepang biasanya orang akan membaca buku saat mengantri) 
6. Anak bisa belajar bersosialisasi menyapa dan mengobrol dengan orang lain di antrian. Anak belajar tabah dan sabar menjalani proses dalam mencapai tujuannya. 
7. Anak belajar hukum sebab akibat, bahwa jika datang terlambat harus menerima konsekuensinya di antrian belakang. 
8. Anak belajar disiplin, teratur dan kerapihan. Anak belajar memiliki RASA MALU, jika ia menyerobot antrian dan hak orang lain. 
9. Anak belajar bekerjasama dengan orang2 yang ada di dekatnya jika sementara mengantri ia harus keluar antrian sebentar untuk ke kamar kecil. 
10. Anak belajar jujur pada diri sendiri dan pada orang lain. dan mungkin masih banyak lagi pelajaran berharga lainnya, silahkan anda temukan sendiri sisanya. 
Saya sempat tertegun mendengarkan butir-butir penjelasannya. Dan baru saja menyadari hal ini saat suatu ketika mengajak anak kami berkunjung ke tempat bermain anak Kids Zania di Jakarta. Apa yang di pertontonkan para orang tua pada anaknya, dalam mengantri menunggu giliran sungguh memprihatinkan. Ada orang tua yang memaksa anaknya untuk ”menyusup” ke antrian depan dan mengambil hak anak lain yang lebih dulu mengantri dengan rapi. Dan berkata ”Sudah cuek saja, pura-pura gak tau aja !!” Ada orang tua yang memarahi anaknya dan berkata ”Dasar Penakut”, karena anaknya tidak mau dipaksa menyerobot antrian. Ada orang tua yang menggunakan taktik dan sejuta alasan agar anaknya di perbolehkan masuk antrian depan, karena alasan masih kecil capek ngantri, rumahnya jauh harus segera pulang, dsb. Dan menggunakan taktik yang sama di lokasi antrian permainan yang berbeda. Ada orang tua yang malah marah2 karena di tegur anaknya menyerobot antrian, dan menyalahkan orang tua yang menegurnya. dan berbagai macam kasus lainnya yang mungkin anda pernah alami juga? 
Ah sayang sekali ya.... padahal disana juga banyak pengunjung orang Asing entah apa yang ada di kepala mereka melihat kejadian semacam ini? Ah sayang sekali jika orang tua, guru, dan Kementrian Pendidikan kita masih saja meributkan anak muridnya tentang Ca Lis Tung (Baca Tulis Hitung), Les Matematika dan sejenisnya. Padahal negara maju saja sudah berpikiran bahwa mengajarkan MORAL pada anak jauh lebih penting dari pada hanya sekedar mengajarkan anak pandai berhitung. Ah sayang sekali ya... Mungkin itu yang menyebabkan negeri ini semakin jauh saja dari praktek-praktek hidup yang beretika dan bermoral? Ah sayang sekali ya... seperti apa kelak anak2 yang suka menyerobot antrian sejak kecil ini jika mereka kelak jadi pemimpin di negeri ini? Semoga ini menjadi pelajaran berharga bagi kita semua para orang tua juga para pendidik di seluruh tanah air tercinta. Untuk segera menyadari bahwa mengantri adalah pelajaran sederhana yang banyak sekali mengandung pelajaran hidup bagi anak dan harus di latih hingga menjadi kebiasaan setiap anak Indonesia. Mari kita ajari generasi muda kita untuk mengantri, untuk Indonesia yang lebih baik. 

Pengalaman lain juga pernah saya rasakan waktu saya kelas 2 SMA. Bukan anak-anaklah pelakunya tapi orang dewasa. Saat itu saya mau membeli makan diluar, ketika itu pula antreannya sangat panjang mau tidak mau saya harus ikut antre. Ketika tepat giliran saya, di belakang saya sudah ada ibu-ibu yang langsung bicara ingin pesan ini itu ini itu dan menyodorkan uang yang ia pegang untuk membeli makanan tersebut padahal jelas-jelas yang datang duluan adalah saya, dan saya juga ga habis pikir sampai sekarang, penjualnya juga merespon permintaan ibu-ibu tadi, jadilah saya di trobos dari belakang. Sampai saat inipun kadang-kadang saya juga masih sering mengalami. 

Miris sih memang, tapi mau gimana lagi kita juga tidak bisa merubah mental secara langsung. Harus melalui proses dan tingkatan. Ketika saya sedang melamun di kamar dan memikirkan mengantri, saya teringat waktu kecil. Guru SD saya selalu mengatakan, ingat antre dulu kalau mau apa-apa jangan rebutan, tirulah seoarang bebek yang berjalan dengan rapi. Kalian itu manusia yang mempunyai akal masak ia mau kalah dengan hewan? Dari situ saya berfikir, apakah manusia jaman sekarang itu lebih rendah dari pada hewan yah moralnya? Lantas bagaimana anak cucu kita kalau kita sekarang lebih rendah dari pada hewan, suatu hari medatang anak cucu kita mau jadi apa? 

Do you have ' scary ' dream ( dok : http://www.wholeheartedmen.com )
Saya yakin semua orang pasti telah mendapatkan pelajaran mengantre sejak kecil. Dan disitulah guru, nenek moyang, dan para pendahulu kita berharap, agar kita sendiri selalu berpegang teguh pada moralitas, tidak mengesampingkan hak orang lain. Memang tulisan ini hanyalah sebatas tulisan, tapi sama seperti pendahulu kita, saya tidak akan pernah berhenti berharap, dan tidak pernah berhenti berusaha agar menjadikan Indonesia yang baik dan bermoral tinggi. Kita tidak butuh akademik tanpa moral, yang kita butuhkan adalah moral yang bersanding dengan akademik. Semua orang pasti punya mimpi, tapi bagaimana kita mewujudkan mimpi itu menjadi sebuah kenyatan, kenyataan yang membawa moral bangsa kita menjadi moral di atas hewan.

Ini ada sedikit video animasi tentang Budaya Antri

Nah sekarang kita kembalikan ke diri kita masing-masing, apakah budaya ini akan diteruskan atau stop budaya seperti ini. Kita tidak bisa memaksa orang lain untuk berubah, tapi kita bisa memaksa di kita sendiri untuk berubah ke arah yang lebih baik. Be a smart person. Semoga ringkasan dan cerita di atas membuat kita sadar akan pentingnya budaya mengantre, walau kita sudah di beri pelajaran sejak dini tapi ketika kita dewasa kita melupakan ajaran itu, dimana ajaran itu adalah harapan dari guru kita, nenek moyang kita kepada kita untuk menjadi orang yang mempunyai akademis yang bagus dan mempunyai moral yang tidak rendah dari pada hewan. Dan saya berharap Budaya Bangsa Indonesia yang seperti ini tidak menjadi WAJAH Indonesia yang terus menerus terpampang di mata dunia. Jadilah Budaya Bangsa Indonesia yang mempunyai etika dan sekita itulah wajah Indonesia yang sebenarnya akan muncul. ^_^
◄ Posting Baru Posting Lama ►
 

thanks to Man4JKT

Follow Me

My Inspiration

Copyright © 2014. Indonesia Budayaku Indonesia Bangsaku - All Rights Reserved Thanks to Bam, and modiv by ModinBS